Manakala kita mendengar raungan mobil polisi, dan melihat lampu biru menyala-nyala di kaca spion mobil kita, segera kita memeriksa apa-apa ‘kesalahan’ yang kita lakukan. Walaupun ternyata mobil polisi itu hanya lewat. Hal itu terjadi karena dalam pikran kita telah terbentuk asosiasi antara kehadiran suara dan lampu mobil polisi dengan ‘tilang’. Inilah yang disebut jangkar (anchor), yang memicu sikap dan tindakan tertentu.
Proses dimana suatu respons internal diasosiasikan dengan pengalaman eksternal atau internal itu disebut anchoring. Ini sesuai dengan fungsi jangkar untuk mengikat kapal di tempatnya, suatu jangkar akan menjadi acuan atau patok untuk mengikat pengalaman. Ini bisa dikaitkan dengan penelitian Pavlov untuk meneliti respons anjing atas bel yang dibunyikan saat mereka diberi makanan. Tiap kali memberi makanan, bel dibunyikan. Itu dilakukan berulang, hingga suatu saat bel dibunyikan tapi makanan tidak diberikan. Ternyata anjing-anjing itu tetap mengeluarkan air liurnya, karena pikirannya mereka telah belajar, bahwa bunyi bel terkait dengan datangnya makanan.
Jangkar pikiran ini terjadi alamiah, sehari-hari. Apa yang kita lihat, dengar, rasakan, bau, dan sentuh setiap hari dapat mengundang kenangan dan perasaan. Kadang perasaan yang menyenangkan, walau kadang perasaan buruk juga.
Jangkar pikiran atau anchor itu dapat dibentuk untuk kepentingan kita, sehingga dengan ”simbol” tertentu dengan cepat kita dapat mengundang perasaan atau emosi positip yang kita kehendaki. Ini penting karena sering kali kita perlu menghadirkan tidak hanya perasaan tapi juga tindakan refleks tertentu. Misalnya, kita otomatis akan menginjak rem kendaraan saat melihat lampu rem kendaraan di depan menyala. Itu berlangsung cepat, tanpa harus dipikir dulu, karena memang tidak cukup waktu untuk memikirkannya. Dengan kata lain berlangsung dengan kendali pikiran tanpa-sadar (unconscious).
Untuk menghasilkan tindakan atau sikap tertentu secara cepat dapat diciptakan jangkar pikiran. Misalnya menghadirkan perasaan percaya diri, alangkah bergunanya kalau tidak harus berfikir dan membayangkan kenangan indah dulu, tapi hanya satu dengan sentuhan pada telinga saja.
Beberapa pelatih manajemen menggunakan anchoring spatial (ruang), misalnya dengan selalu berdiri di sebelah kiri saat menerangkan pelajaran, berdiri di tengah ruangan saat melontarkan pertanyaan. Jika ini dilakukan berulang kali, maka siswa akan belajar, dan otomatis akan sisp-siap menjwab saat sang instruktur berdiri di tengah ruangan. Atau pelatih memutar lagu tertentu setiap saat siswa harus masuk lagi ke dalam kelas, sehingga tanpa dipanggil-panggil mereka otomatis masuk kelas saat lagu itu diputar.
Bagaimana membentuk anchor?
Ada beberapa prinsip yang perlu dipenuhi agar anchor yang terbentuk efektif bekerja. Antara lain, pemicu yang dibuat haruslah bersifat unik, dilakukan kalibrasi beberapa kali agar betul-betul bisa berfungsi.
Keunikan stimulus yang dimaksud menyangkut: (a) intensitas, (b) kemurniannya, (c) waktu (timing), dan (d) konteksnya. Intensitas, menyangkut kekuatan sensasi yang diasosiasikan dengan pemicu yang dibuat. Misalnya, untuk menciptakan anchor ”percaya diri”, perlu dihadirkan kenangan saat rasa ’percaya diri’ sangat tinggi. Apa yang dilihat, didengar, dirasa saat itu, kuatkan warna, cahaya, bunyi, dan kesan perasaan yang hadir. Sehingga saat anchor, misalnya ’memegang telinga’ akan mudah memicu hadirnya sensasi percaya diri tersebut.
Kemurnian, artinya stimulus ’memegang telinga’ yang kita ciptakan memang betul-betul murni dikaitkan dengan peristiwa spesifik saat ’percaya diri’ besar dengan sensasi kuatnya, dan tidak tercampur dengan kesan lain. Waktu atau timing, agar efektif maka saat penerapan anchor tersebut haruslah benar-benar tepat waktu. Menyusunnya saat kondisi emosi kita sangat kuat. Konteks, maksudnya sebagian anchor efektif hanya kalau situasi saat dihadirkannya persis mirip saat pengalaman (percaya diri) itu terjadi.
Langkah pembentukan anchor agar betul-betul efektif berfungsi, antara lain meliputi:
1. Perjelas hasil (outcome) yang ingin dicapai dengan penggunaan anchor ini, dan sikap apa yang akan dihadirkan,
2. Hadirkan dan jangkar sikap yang ingin kita inginkan itu menggunakan kondisi yang tersusun dengan baik (sensasinya kuat),
3. Uji keefektifannya dengan memanggilnya (misal ’memegang telinga’) beberapa-kali
Anchoring Sumber Daya
Jangkar sumber daya ini memungkinkan suatu sikap (positip) tertentu dihadirkan pada saat dibutuhkan. Misalnya, kita akan menghadiri suatu pertemuan penting, akan sempurna kalau kita saat itu dalam kondisi percaya diri dan mantap. Langkah-langkah untuk menciptakan anchor ini adalah sebagai berikut:
1. Identifikasi situasi dimana kita rasa akan membutuhkannya;
2. Pilih sikap yang kita inginkan pada situasi itu, misalnya sikap “percaya diri,”
3. Ingat-ingat saat kita mengalami ”percaya diri” yang tinggi. Lihat apa yang tampak saat itu (orang, benda, ruangan atau pemandangan), dengar suara (musik, percakapan, keheningan lingkungan) yang terjadi, dan rasakan perasaan (panas, dingin, lembut, senang), kalau perlu juga bau (wangi, bau makanan) yang terjadi waktu itu. Cek dan rekam detail sensasinya, kuatkan dengan membesarkan, menguatkan warna dan cahayanya, mengeraskan, merasakan lebih dalam;
4. Pilih tiga anchor, satu kinestetik (terkait sentuhan), satu visual (gambar), satu auditori (terkait bunyi). Yang kinestetik bisa sentuhan pada satu bagian dari tubuh yang janrang kita sentuh, misalnya sentuhan pada telinga, colekan pada lutut, cubitan pada paha. Yang visual, bsa sekedar mengingat apa yang terlihat saat kita mengalami percaya diri yang hebat dulu. Dan anchor auditory bisa dengan mengucapkan kata tertentu, seperti ”pede”, ”yes”atau ”merdeka,” tapi tidak perlu diucapkan dengan keras;
5. Mulai dengan mengulang pengalaman saat sangat ”percaya diri” tersebut. Saat ingatan akan pengalaman ini hadir, saat itu pula praktekkan anchor yang telah kita buat;
6. Lalu, alihkan perhatian (break) dengan melakukan kegiatan lain, misalnya jalan sekitar meja atau keluar ruangan sebentar;
7. Kembali, ulangi langkah 5 beberapa kali, dan tiap kali perbaiki pengalaman dengan menguatkan kesan atau sensasi suasana yang dipanggil hingga optimal;
8. Uji asosiasi dengan mempraktekkan achor tersebut. Kalau kita rasakan telah terjadi asosiasi anchor dengan kesan yang diinginkan berarti anchor itu sudah jadi, tinggal melatih lagi nantinya. Tetapi kalau belum bekerja, berarti perlu mengulang lagi langkah 5-7 hingga anchor itu berfungsi baik;
9. Identifikasi beberapa situasi dimana kita memerlukannya. Bayangkan hadirnya sikap yang kita butuhkan itu saat anchor pemicu tersebut kita gunakan.
Sunday, December 16, 2007
Berkenalan dengan NLP (Neuro Linguistic Program)
Seorang instruktur memberikan komando, “Sambil tetap tutup mata, bernafas dengan teratur. Rileks, rileks, rileks. Sementara itu bayangkan di tangan ada irisan jeruk nipis, bayangkan perlahan buka mulut, lalu peraslah jeruk itu perlahan, rasakan tetes-tetesan airnya jatuh pada lidah…..rasakan asamnya, ya asam sekali, peras lagi, ya akin asam lagi …” Walaupun itu hanya khayalan, bagaimana reaksi air ludah di mulut kita, bagaimana raut muka kita saat membayangkan tetesan air jeruk nipis dan rasanya yang sangat asam. Begitulah awal perkenalan saya dengan NLP, dengan satu prinsip atau bahwa pikiran bisa “menipu, memperdaya atau mengakali” respons spontan yang tidak kita sadari (unconscious mind).
Apakah NLP itu?
Awalnya adalah pikiran. Kita bersikap, bertindak karena ada dorongan dari pikiran. Sedang pikiran sendiri dipengaruhi atau dipicu oleh stimulan tertentu dari luar maupun dari dalam diri kita. Misalnya, pagi-pagi kita membaca berita yang terkait dengan ide kita menulis, yang selama ini sudah kita lupakan. Gara-gara stimulant berita tersebut, memori dalam pikiran kita terkuak kembali, sehingga timbul hasrat kita untuk menulis topik tersebut lagi. Atau, dari dalam diri, karena kondisi kesehatan kita yang memburuk, maka kita jadi murung, atau jengkel karena tugas menumpuk tapi badan tidak bisa diajak kerja sama. Akibatnya, seharian kita bisa murung, jengkel, yang akhirnya mengganggu kegiatan yang lain, dan raut muka yang kusam, kata-kata yang murung membuat reaksi orang disekitar kita juga negative.
Pertanyaannya adalah: apakah pikiran kita, dan tindakan yang mengikutinya hanya menjadi suasana, dari luar maupun dari dalam diri? Padahal mestinya kan pikiran kita yang mengendalikan, bukan dikendalikan. Idealnya kan dengan “pimpinan” ide dan kesadaran yang ada dalam pikiran tersebut, semua sikap dan tindakan dapat diarahkan dan dikendalikan. Jika kita tiap hari disodori dengan persoalan kemacetan lalu lintas, korupsi, harga minyak, yang semua membuat pikiran kita “murung dan jengkel”, apa kita seumur hidup akan menjadi korban dari kondisi dan situasi buruk tersebut?
Untuk menjawab pertanyaan itulah NLP memberikan pemahaman yang dapat dipakai untuk menjelaskan “kuasa” pikiran, tapi juga sekaligus juga pelajaran, teknik-teknik bagaimana mempengaruhi, bahkan “mengakali” pikiran, agar dapat berfikir sesuai dengan yang kita harapkan. Oh ya, NLP adalah singkatan dari neuro linguistic program, yang secara bebas dapat dimengerti sebagai “bahasa pemrograman pikiran” kita. Ini dapat dianalogkan dengan bahasa program computer seperti SQL, html, dan seterusnya.
Salah satu prinsip NLP menyatakan “the map is not the territory”, ini adalah prinsip penting yang menyatakan bahwa yang ada dalam pikiran kita adalah proyeksi atau kesan dari ”realita”, dan bukan realita yang sesungguhnya. Proyeksi atau kesan atau persepsi atas realita tersebut terbentuk di pikiran setelah melalui “saringan” (filter) pengetahuan dan pengalaman pribadi kita sendiri. Artinya, untuk “realita” yang sama setiap orang bisa punya kesan yang berbeda. Gelas “setengah isi” bagi seseorang bisa dilihat sebagai “setengah kosong” bagi yang lain, sehingga sikap dan reaksi tiap orang bisa berbeda.
Dengan prinsip itu, maka sebetulnya pikiran kita punya pilihan kesan, sikap, yang berimplikasi kepada tindakan. Dengan mempelajari NLP, diharapkan bahwa kita dapat memilih sikap pikiran tersebut secara “yang kita kehendaki”, tidak sekedar reaktif terhadap situasi luar yang “memprovokasi” pikiran. Sebaliknya kita berharap dapat mengelola sikap dan reaksi pikiran tersebut.
Jadi, sekali lagi, NLP dapat dimengerti sebagai bahasa untuk kita berdialog dengan “pikiran” sendiri.
Mengapa NLP?
Ya, mengapa kita memerlukan hal seperti NLP ini? Untuk menjawab pertanyaan ini, baiklah kita fahami dulu perlunya berdialog dengan pikiran sendiri. Selain agar pikiran kita bisa “memimpin” dan tidak mudah reaktif seperti diuraikan di atas, kita juga perlu berdialog dengan pikiran sendiri ini agar bisa mengembangkan pilihan-pilihan sikap dan tindakan sebagai respons kita atas situasi yang yang memicu kita dari luar. Misalnya, menghadapi “tekanan” karena berita banjir dan kelambatan pemerintah daerah dalam bertindak. Pikiran bisa kita arahkan untuk memilih sikap: marah, atau pasrah masa bodoh, atau secara positif melihat peluang untuk membantu (beramal).
Tetapi apakah sebegitu mudahnya kita berdialog dengan pikiran? Karena, boleh jadi begitu membaca tentang kejadian banjir, melihat foto korban, dan mendengar penyataan pejabat yang tidak pas, emosi kita langsung meluap, pikiran hanya marah, atau berkata “ah bosan”. Apakah kita bisa mengendalikan pikiran yang spontan seperti itu, yang bereaksi spontan di luar kesadaran (unconscious)? Jawabannya adalah bisa. Dan itulah salah satu manfaat dari NLP, karena dengan ”bahasa program pikiran” ini dimungkinkan untuk berdialog dan mengendalikan pikiran hingga kepada tingkatan ”bawah sadar” (sub-conscious).
Dengan teknik NLP yang memungkinkan kita untuk mengakses pikiran ”bawah sadar”, maka dimungkinkan untuk dapat berdialog dan mempengaruhinya melalui ”pintu” dan bahasa yang dimengerti oleh pikiran ”bawah sadar” tersebut. Sebagai contoh kita juga bisa berdialog dengan pikiran ”bawah sadar” tersebut tentang mengapa kita melakukan kebiasaan-kebiasaan ”buruk” yang sebetulnya dalam keadaan sadar ingin kita hindari atau hentikan. Ini misalnya bagi yang ingin berhenti merokok, minum alkohol, ngemil makanan manis-manis. Sudah banyak upaya untuk menghentikan, mengalihkan dengan sesuatu pengganti (substitusi) tapi kok ya masih mengonsumsinya terus.
Jadi, NLP sebagai bahasa program pikiran, bermanfaat bagi kita untuk bisa berdialog dengan pikiran hingga tingkatan ”bawah sadar” (subconscious), yang akan bermanfaat untuk mengendalikan pikiran dan sikap atau tindakan yang sering spontan, di luar kontrol, dan sulit dikendalikan (unconscious).
Pintu Masuk ke Pikiran Bawah Sadar
Telah disinggung di atas, bahwa untuk mengakses atau berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar perlu melalui ”pintu”, yaitu yang disebut recticular activating system (RAS) atau ”kisi-kisi penyaring” yang akan terbuka kalau pikiran seseorang berada dalam kondisi yang tenang, rileks, berfokus hanya satu perhatian saja, situasi dengan gelombang 7-13 cps (putaran per detik), antara sadar dan seperti akan tidur. Situasi yang disebut Alpha di atas.
Dengan terbukanya kisi-kisi atau filter, maka pikiran sadar yang sebenarnya maksimal hanya 12% dari kemampuan otak yang sesungguhnya akan terhubung dengan yang 88%, yang merupakan pikiran bawah sadar. Dapat dibayangkan betapa bermanfaatnya kalau seseorang dapat meningkatkan kemampuan berfikirnya dengan membuka dan mengakses potensi pikiran sesungguhnya.
Untuk itu disarankan untuk sebanyak mungkin melatih diri agar bisa lebih sering berada dalam posisi Alpha, sehingga apa-apa yang dibaca, didengar, diamati bisa masuk ke dalam memori dengan baik. Sebaliknya akan semakin besar pula kapasitasnya untuk dapat mengakses, mendaya gunakan memori yang ada pada pikiran bawah sadar, makin lancar (encer) dan makin mudah menghubungkan satu informasi dengan informasi lainnya. Bukankah sebenarnya berpikir adalah menghubungkan satu informasi dengan informasi lainnya di dalam pikiran. Dan, para ahli juga mengatakan makin sering terjadi hubungan satu bagian dengan bagian lainnya di dalam otak, maka makin ”kuat” lah saluran darah di antaranya. Dengan kata lain makin cerdaslah orang itu.
Bahasa Program Pikiran
Setelah pintu kisi-kisi penyaring (RAS) antara pikiran sadar dan bawah sadar dapat dibuka, maka apa yang akan dikomunikasikan antara keduanya? Ini tentu tergantung dari tujuan orang tersebut, bisa untuk memasukkan atau memanggil memori seperti analogi dengan cara kerjanya komputer. Namun untuk kepentingan obrolan atau diskusi kita yang menyangkut ”sikap dan perubahan perilaku atau kebiasaan”, maka yang perlu dibahas adalah ”bahasa program” yang terkait dengan sugesti tersebut.
Terkait dengan sugesti, para ahli menyatakan bahwa pikiran bawah sadar hanya mengenal ungkapan bahasa yang, positif, sekarang, bersifat pribadi, dan spesifik. Positip contohnya,”aku penulis cepat,” jangan katakan,”aku bukan penulis lambat,” karena kata ”tidak” itu tak dibaca. Kedua, sekarang, maksdunya hindari penggunaan kata ”sedang/akan/mau,” karena akan melemahkan sugesti. Ketiga, bersifat pribadi, contohnya, ”aku bekerja keras untuk membiayai anak” dan bukan ”anakku rajin belajar,” karena anak bukan pribadi kita sendiri. Keempat, spesifik besaran, waktu, warna, dan seterusnya.
Pikiran bawah sadar juga lebih mudah berkomunikasi dengan bahasa non-verbal, yaitu simbol, warna, bunyi irama, rasa atau raba atau visual, auditory, kinetetic (VAK); daripada bahasa verbal berupa argumentasi kata-kata atau formula angka-angka. Ini bisa dibuktikan dengan, misalnya kita lebih mudah mengingat irama lagu, daripada syairnya. Silahkan mengingat lagu lama, yang dulu pernah menjadi favorit. Lebih mudah mana mengingat irama lagu atau liriknya?
Pemahaman bahasa program pikiran ini penting agar kita (pikiran sadar) dapat berkomunikasi dengan lebih baik dengan pikiran bawah sadar. Seperti telah disinggung, manfaatnya bisa untuk memanggil memori, menghubungkan antar informasi, memberi sugesti dan motivasi kepada diri sendiri, dan seterusnya.
Risfan Munir, konsultan, pelatih di bidang manajemen dan perencanaan, serta penulis buku “Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif” (2006). Tinggal di Jakarta, email: risfano@yahoo.com.
Apakah NLP itu?
Awalnya adalah pikiran. Kita bersikap, bertindak karena ada dorongan dari pikiran. Sedang pikiran sendiri dipengaruhi atau dipicu oleh stimulan tertentu dari luar maupun dari dalam diri kita. Misalnya, pagi-pagi kita membaca berita yang terkait dengan ide kita menulis, yang selama ini sudah kita lupakan. Gara-gara stimulant berita tersebut, memori dalam pikiran kita terkuak kembali, sehingga timbul hasrat kita untuk menulis topik tersebut lagi. Atau, dari dalam diri, karena kondisi kesehatan kita yang memburuk, maka kita jadi murung, atau jengkel karena tugas menumpuk tapi badan tidak bisa diajak kerja sama. Akibatnya, seharian kita bisa murung, jengkel, yang akhirnya mengganggu kegiatan yang lain, dan raut muka yang kusam, kata-kata yang murung membuat reaksi orang disekitar kita juga negative.
Pertanyaannya adalah: apakah pikiran kita, dan tindakan yang mengikutinya hanya menjadi suasana, dari luar maupun dari dalam diri? Padahal mestinya kan pikiran kita yang mengendalikan, bukan dikendalikan. Idealnya kan dengan “pimpinan” ide dan kesadaran yang ada dalam pikiran tersebut, semua sikap dan tindakan dapat diarahkan dan dikendalikan. Jika kita tiap hari disodori dengan persoalan kemacetan lalu lintas, korupsi, harga minyak, yang semua membuat pikiran kita “murung dan jengkel”, apa kita seumur hidup akan menjadi korban dari kondisi dan situasi buruk tersebut?
Untuk menjawab pertanyaan itulah NLP memberikan pemahaman yang dapat dipakai untuk menjelaskan “kuasa” pikiran, tapi juga sekaligus juga pelajaran, teknik-teknik bagaimana mempengaruhi, bahkan “mengakali” pikiran, agar dapat berfikir sesuai dengan yang kita harapkan. Oh ya, NLP adalah singkatan dari neuro linguistic program, yang secara bebas dapat dimengerti sebagai “bahasa pemrograman pikiran” kita. Ini dapat dianalogkan dengan bahasa program computer seperti SQL, html, dan seterusnya.
Salah satu prinsip NLP menyatakan “the map is not the territory”, ini adalah prinsip penting yang menyatakan bahwa yang ada dalam pikiran kita adalah proyeksi atau kesan dari ”realita”, dan bukan realita yang sesungguhnya. Proyeksi atau kesan atau persepsi atas realita tersebut terbentuk di pikiran setelah melalui “saringan” (filter) pengetahuan dan pengalaman pribadi kita sendiri. Artinya, untuk “realita” yang sama setiap orang bisa punya kesan yang berbeda. Gelas “setengah isi” bagi seseorang bisa dilihat sebagai “setengah kosong” bagi yang lain, sehingga sikap dan reaksi tiap orang bisa berbeda.
Dengan prinsip itu, maka sebetulnya pikiran kita punya pilihan kesan, sikap, yang berimplikasi kepada tindakan. Dengan mempelajari NLP, diharapkan bahwa kita dapat memilih sikap pikiran tersebut secara “yang kita kehendaki”, tidak sekedar reaktif terhadap situasi luar yang “memprovokasi” pikiran. Sebaliknya kita berharap dapat mengelola sikap dan reaksi pikiran tersebut.
Jadi, sekali lagi, NLP dapat dimengerti sebagai bahasa untuk kita berdialog dengan “pikiran” sendiri.
Mengapa NLP?
Ya, mengapa kita memerlukan hal seperti NLP ini? Untuk menjawab pertanyaan ini, baiklah kita fahami dulu perlunya berdialog dengan pikiran sendiri. Selain agar pikiran kita bisa “memimpin” dan tidak mudah reaktif seperti diuraikan di atas, kita juga perlu berdialog dengan pikiran sendiri ini agar bisa mengembangkan pilihan-pilihan sikap dan tindakan sebagai respons kita atas situasi yang yang memicu kita dari luar. Misalnya, menghadapi “tekanan” karena berita banjir dan kelambatan pemerintah daerah dalam bertindak. Pikiran bisa kita arahkan untuk memilih sikap: marah, atau pasrah masa bodoh, atau secara positif melihat peluang untuk membantu (beramal).
Tetapi apakah sebegitu mudahnya kita berdialog dengan pikiran? Karena, boleh jadi begitu membaca tentang kejadian banjir, melihat foto korban, dan mendengar penyataan pejabat yang tidak pas, emosi kita langsung meluap, pikiran hanya marah, atau berkata “ah bosan”. Apakah kita bisa mengendalikan pikiran yang spontan seperti itu, yang bereaksi spontan di luar kesadaran (unconscious)? Jawabannya adalah bisa. Dan itulah salah satu manfaat dari NLP, karena dengan ”bahasa program pikiran” ini dimungkinkan untuk berdialog dan mengendalikan pikiran hingga kepada tingkatan ”bawah sadar” (sub-conscious).
Dengan teknik NLP yang memungkinkan kita untuk mengakses pikiran ”bawah sadar”, maka dimungkinkan untuk dapat berdialog dan mempengaruhinya melalui ”pintu” dan bahasa yang dimengerti oleh pikiran ”bawah sadar” tersebut. Sebagai contoh kita juga bisa berdialog dengan pikiran ”bawah sadar” tersebut tentang mengapa kita melakukan kebiasaan-kebiasaan ”buruk” yang sebetulnya dalam keadaan sadar ingin kita hindari atau hentikan. Ini misalnya bagi yang ingin berhenti merokok, minum alkohol, ngemil makanan manis-manis. Sudah banyak upaya untuk menghentikan, mengalihkan dengan sesuatu pengganti (substitusi) tapi kok ya masih mengonsumsinya terus.
Jadi, NLP sebagai bahasa program pikiran, bermanfaat bagi kita untuk bisa berdialog dengan pikiran hingga tingkatan ”bawah sadar” (subconscious), yang akan bermanfaat untuk mengendalikan pikiran dan sikap atau tindakan yang sering spontan, di luar kontrol, dan sulit dikendalikan (unconscious).
Pintu Masuk ke Pikiran Bawah Sadar
Telah disinggung di atas, bahwa untuk mengakses atau berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar perlu melalui ”pintu”, yaitu yang disebut recticular activating system (RAS) atau ”kisi-kisi penyaring” yang akan terbuka kalau pikiran seseorang berada dalam kondisi yang tenang, rileks, berfokus hanya satu perhatian saja, situasi dengan gelombang 7-13 cps (putaran per detik), antara sadar dan seperti akan tidur. Situasi yang disebut Alpha di atas.
Dengan terbukanya kisi-kisi atau filter, maka pikiran sadar yang sebenarnya maksimal hanya 12% dari kemampuan otak yang sesungguhnya akan terhubung dengan yang 88%, yang merupakan pikiran bawah sadar. Dapat dibayangkan betapa bermanfaatnya kalau seseorang dapat meningkatkan kemampuan berfikirnya dengan membuka dan mengakses potensi pikiran sesungguhnya.
Untuk itu disarankan untuk sebanyak mungkin melatih diri agar bisa lebih sering berada dalam posisi Alpha, sehingga apa-apa yang dibaca, didengar, diamati bisa masuk ke dalam memori dengan baik. Sebaliknya akan semakin besar pula kapasitasnya untuk dapat mengakses, mendaya gunakan memori yang ada pada pikiran bawah sadar, makin lancar (encer) dan makin mudah menghubungkan satu informasi dengan informasi lainnya. Bukankah sebenarnya berpikir adalah menghubungkan satu informasi dengan informasi lainnya di dalam pikiran. Dan, para ahli juga mengatakan makin sering terjadi hubungan satu bagian dengan bagian lainnya di dalam otak, maka makin ”kuat” lah saluran darah di antaranya. Dengan kata lain makin cerdaslah orang itu.
Bahasa Program Pikiran
Setelah pintu kisi-kisi penyaring (RAS) antara pikiran sadar dan bawah sadar dapat dibuka, maka apa yang akan dikomunikasikan antara keduanya? Ini tentu tergantung dari tujuan orang tersebut, bisa untuk memasukkan atau memanggil memori seperti analogi dengan cara kerjanya komputer. Namun untuk kepentingan obrolan atau diskusi kita yang menyangkut ”sikap dan perubahan perilaku atau kebiasaan”, maka yang perlu dibahas adalah ”bahasa program” yang terkait dengan sugesti tersebut.
Terkait dengan sugesti, para ahli menyatakan bahwa pikiran bawah sadar hanya mengenal ungkapan bahasa yang, positif, sekarang, bersifat pribadi, dan spesifik. Positip contohnya,”aku penulis cepat,” jangan katakan,”aku bukan penulis lambat,” karena kata ”tidak” itu tak dibaca. Kedua, sekarang, maksdunya hindari penggunaan kata ”sedang/akan/mau,” karena akan melemahkan sugesti. Ketiga, bersifat pribadi, contohnya, ”aku bekerja keras untuk membiayai anak” dan bukan ”anakku rajin belajar,” karena anak bukan pribadi kita sendiri. Keempat, spesifik besaran, waktu, warna, dan seterusnya.
Pikiran bawah sadar juga lebih mudah berkomunikasi dengan bahasa non-verbal, yaitu simbol, warna, bunyi irama, rasa atau raba atau visual, auditory, kinetetic (VAK); daripada bahasa verbal berupa argumentasi kata-kata atau formula angka-angka. Ini bisa dibuktikan dengan, misalnya kita lebih mudah mengingat irama lagu, daripada syairnya. Silahkan mengingat lagu lama, yang dulu pernah menjadi favorit. Lebih mudah mana mengingat irama lagu atau liriknya?
Pemahaman bahasa program pikiran ini penting agar kita (pikiran sadar) dapat berkomunikasi dengan lebih baik dengan pikiran bawah sadar. Seperti telah disinggung, manfaatnya bisa untuk memanggil memori, menghubungkan antar informasi, memberi sugesti dan motivasi kepada diri sendiri, dan seterusnya.
Risfan Munir, konsultan, pelatih di bidang manajemen dan perencanaan, serta penulis buku “Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif” (2006). Tinggal di Jakarta, email: risfano@yahoo.com.
Sukses Dengan Berfikir Antisipatif
Bagaimana situasi tahun depan? Ini adalah pertanyaan yang selalu diajukan dalam merencanakan strategi di tahun mendatang. Sejauh itu bisa diprediksi, ada data atau angka-angka pertumbuhan/penurunannya dapat dihitung, maka tidak ada masalah. Tinggal memproyeksikan data masa lalu ke masa depan, lalu dibuat rencana sesuai prakiraan tersebut. Namun tidak demikian jika menyangkut faktor-faktor yang sulit diprediksi sebelumnya.
Beberapa faktor yang tak dapat diduga sebelumnya antara lain: keputusan politik pemerintah atau hasil pemilu atau pilkada, kejadian ekonomi yang besar pengaruhnya seperti harga bahan bakar, dampak perubahan iklim dan inovasi teknologi. Untuk perubahan faktor-faktor yang sulit diprediksi ini akan diperlukan penyusunan skenario perubahan. Ini menyangkut asumsi dan sikap berfikir sang perencana, sehingga obrolan tentang pemrograman pikiran menjadi relevan.
Untuk menghidupkan obrolan ini, ilustrasi fiktif berikut ini mencoba menunjukkan bagaimana seseorang menyusun skenario berdasarkan persepsi masing-masing atas faktor-faktor yang berpengaruh dan bagaimana hasil skenario tersebut dipilih.
Empat Peramal, Empat Skenario
Pada hari-hari antara Natal dan Tahun Baru seperti ini biasanya saya lebih suka istirahat di rumah. Sambil melakukan retrospeksi. Evaluasi ke belakang, untuk menatap tahun depan. Tapi sudah dua minggu ini aku menunda-nunda janji untk mengantar Do’i ke mal. Jadi dengan berat hati terpaksa ikut memadati shopping-center yang tampak kewalahan menampung jejalan pengunjung.
Sambil menunggu Do’i yang asyik di department-store, meski berdesakan di lantai dasar Megamal saya sempat melirik ke deretan ruang-ruang bersekat. Di depan deretan ruang itu tertulis ”Festival Ramalan 2008”. Ah, daripada bete berdesakan lebih baik iseng-iseng masuk ke salah satu ruang. Sedikit bertualang, siapa tahu dapat cerita baru.
Pada stand ini terpampang nama: Ki Garis. Mungkin untuk menguatkan citranya di dinding tergambar berbagai macam garis (lurus, lengkung, menaik, menurun).
”Silahkan Bang, ada yang Ki Garis bisa bantu? Barangkali soal nasib pekerjaan, rumah-tangga, atau yang lain”. Wah, saya mau tanya apa ya? Tapi namanya iseng, saya tanya: ”Soal investasi Ki. Bagaimana kira-kira prospek investasi reksadana tahun depan?” Sedikit ngetest begtu.
Jawab Ki Garis:”Sama dengan soal lain, soal investasi juga soal garis. Coba Anda ingat-ingat beberapa bulan kemarin dinamika harganya seperti garis yang mana (sambil dia tunjukkan kepada saya berbagai macam penggaris lurus dan lengkung).” Setelah mengingat dan mengira-ngira saya pilih satu penggaris lengkung yang mirip belati panjang di bendera Saudi. ”Yah, begitulah trend sampai pertengahan tahun depan” ujar Ki Garis. Ah! Soal investasi reksadana Oke, tapi asam urat bisa runyam nih.
Yang berbelanja belum selesai, maka saya masuk ke stand kedua yang menampilkan Mama Mollen. Sesuai namanya di dinding tergambar kincir air, juga miniatur angin di mejanya. ”Reksadana?” menegaskan pertanyaan saya. Atas anggukan saya Mama Mollen melanjutkan:”Seperti roda kincir ini Bang, perubahan selalu naik-turun. Jadi kalau selama enam bulan lalu naik tajam. Enam bulan ke depan tanda-tandanya masih naik, walau mulai melamban. Tapi, waspadai tanda-tanda kulminasinya. Karena setelah itu akan menurun.” Tiba-tiba terdengar hentakan suara Shirley Bassey, “What goes up must come down. Spinning wheel got to go around…”
Masuk stand ketiga ketemu Ni Pegas. Sesuai namanya, suasana ruangan dipenuhi dengan kesan pegas, kenyal, dan bola-bola besar kecil. Di maja ada pendulum stainless steel, yang terus bergoyang kanan-kiri. ”Kondisi ke depan, seperti pendulum ini, kalau kita sorong ke kanan, maka akan balik sesuai kekuatan dorong kita.” setelah menatap saya sebentar, dia lanjutkan: ”Challenge and response, begitu prinsipnya. Apa yang Anda lakukan, akan direspons oleh orang-orang. Itu yang harus selalu diperhitungkan. Jadi waspadai trend tersebut.” Berarti waspada serangan balik. Tapi soal asam urat mesti direspons dengan diet nih.
Stand ke-empat agak lain. Ruangan Mr. Rambo ini interiornya dipenuhi gambar poster film-film Rambo, Commando, Terminator, ada juga yang jadul seperti the Lone Ranger.
"Nomor satu adalah pede (percaya diri). Maju saja, termasuk dalam investasi, sesuai keyakinan kita. Kalau berkeyakin kuat, laksanakan habis-habisan. The dream will come true. Yakin deh the rest of the world pasti nurut." Wow, Rambo banget.
Jadi bagaimana rencana atau strategi ke depan? Menambah investasi, memperluas usaha, bertahan, atau justru mengurangi kegiatan? Bagaimana kalau pakai asumsi linier? Kalau cyclical seperti roda pedati? Merespons tantangan? Atau yakin saja maju terus ala the Lone Ranger?
Apapun skenario yang dipercaya dan strategi atau tindakan yang diambil, akan lebih baik kalau tiap skenario dibuat dan dikembangkan strategi tindakan yang sesuai untuk masing-masing. Walaupun nantinya yang dipilih adalah salah satu strategi, namun letihan (exercise) dengan berbagai scenario tersebut akan membuat kita siap untuk menghadapi realita yang akan terjadi di tahun depan. Dengan kata lain, sebaiknya siap dengan Plan A, Plan B, Plan C, dan kombinasinya.
Ringkasan dan praktik:
1. Tidak semua kecenderungan masa mendatang bisa diprediksi dengan data, seperti hasil pemilu, perubahan iklim, karena itu diperlukan penyusunan scenario.
2. Ada empat pola scenario yang layak dipertimbangkan: perubahan linier, perubahan berulang (siklus), tantangan vs respons nya (dialektis), serta maju terus tanpa peduli factor-faktor yang berubah.
3. Pola skenario mana yang akan terjadi, tidak ada yang tahu. Oleh karena itu, ada baiknya dilakukan latihan (exercise) pengambilan keputusan atau penyusunan rencana berdasarkan tiap pola scenario.
4. Pilih salah satu scenario yang disepakati sebagai yang paling mungkin terjadi, dan pilih satu keputusan dan rencana berdasarkan scenario terpilih.
5. untuk mengantisipasi risiko, ada baiknya dilengkapi dengan Plan B dan Plan C, sesuai pola scenario yang lain, yang masih mungkin terjadi.
Risfan Munir, konsultan, pelatih di bidang manajemen dan perencanaan, serta penulis buku “Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif” (2006). Tinggal di Jakarta, email: risfano@yahoo.com.
Beberapa faktor yang tak dapat diduga sebelumnya antara lain: keputusan politik pemerintah atau hasil pemilu atau pilkada, kejadian ekonomi yang besar pengaruhnya seperti harga bahan bakar, dampak perubahan iklim dan inovasi teknologi. Untuk perubahan faktor-faktor yang sulit diprediksi ini akan diperlukan penyusunan skenario perubahan. Ini menyangkut asumsi dan sikap berfikir sang perencana, sehingga obrolan tentang pemrograman pikiran menjadi relevan.
Untuk menghidupkan obrolan ini, ilustrasi fiktif berikut ini mencoba menunjukkan bagaimana seseorang menyusun skenario berdasarkan persepsi masing-masing atas faktor-faktor yang berpengaruh dan bagaimana hasil skenario tersebut dipilih.
Empat Peramal, Empat Skenario
Pada hari-hari antara Natal dan Tahun Baru seperti ini biasanya saya lebih suka istirahat di rumah. Sambil melakukan retrospeksi. Evaluasi ke belakang, untuk menatap tahun depan. Tapi sudah dua minggu ini aku menunda-nunda janji untk mengantar Do’i ke mal. Jadi dengan berat hati terpaksa ikut memadati shopping-center yang tampak kewalahan menampung jejalan pengunjung.
Sambil menunggu Do’i yang asyik di department-store, meski berdesakan di lantai dasar Megamal saya sempat melirik ke deretan ruang-ruang bersekat. Di depan deretan ruang itu tertulis ”Festival Ramalan 2008”. Ah, daripada bete berdesakan lebih baik iseng-iseng masuk ke salah satu ruang. Sedikit bertualang, siapa tahu dapat cerita baru.
Pada stand ini terpampang nama: Ki Garis. Mungkin untuk menguatkan citranya di dinding tergambar berbagai macam garis (lurus, lengkung, menaik, menurun).
”Silahkan Bang, ada yang Ki Garis bisa bantu? Barangkali soal nasib pekerjaan, rumah-tangga, atau yang lain”. Wah, saya mau tanya apa ya? Tapi namanya iseng, saya tanya: ”Soal investasi Ki. Bagaimana kira-kira prospek investasi reksadana tahun depan?” Sedikit ngetest begtu.
Jawab Ki Garis:”Sama dengan soal lain, soal investasi juga soal garis. Coba Anda ingat-ingat beberapa bulan kemarin dinamika harganya seperti garis yang mana (sambil dia tunjukkan kepada saya berbagai macam penggaris lurus dan lengkung).” Setelah mengingat dan mengira-ngira saya pilih satu penggaris lengkung yang mirip belati panjang di bendera Saudi. ”Yah, begitulah trend sampai pertengahan tahun depan” ujar Ki Garis. Ah! Soal investasi reksadana Oke, tapi asam urat bisa runyam nih.
Yang berbelanja belum selesai, maka saya masuk ke stand kedua yang menampilkan Mama Mollen. Sesuai namanya di dinding tergambar kincir air, juga miniatur angin di mejanya. ”Reksadana?” menegaskan pertanyaan saya. Atas anggukan saya Mama Mollen melanjutkan:”Seperti roda kincir ini Bang, perubahan selalu naik-turun. Jadi kalau selama enam bulan lalu naik tajam. Enam bulan ke depan tanda-tandanya masih naik, walau mulai melamban. Tapi, waspadai tanda-tanda kulminasinya. Karena setelah itu akan menurun.” Tiba-tiba terdengar hentakan suara Shirley Bassey, “What goes up must come down. Spinning wheel got to go around…”
Masuk stand ketiga ketemu Ni Pegas. Sesuai namanya, suasana ruangan dipenuhi dengan kesan pegas, kenyal, dan bola-bola besar kecil. Di maja ada pendulum stainless steel, yang terus bergoyang kanan-kiri. ”Kondisi ke depan, seperti pendulum ini, kalau kita sorong ke kanan, maka akan balik sesuai kekuatan dorong kita.” setelah menatap saya sebentar, dia lanjutkan: ”Challenge and response, begitu prinsipnya. Apa yang Anda lakukan, akan direspons oleh orang-orang. Itu yang harus selalu diperhitungkan. Jadi waspadai trend tersebut.” Berarti waspada serangan balik. Tapi soal asam urat mesti direspons dengan diet nih.
Stand ke-empat agak lain. Ruangan Mr. Rambo ini interiornya dipenuhi gambar poster film-film Rambo, Commando, Terminator, ada juga yang jadul seperti the Lone Ranger.
"Nomor satu adalah pede (percaya diri). Maju saja, termasuk dalam investasi, sesuai keyakinan kita. Kalau berkeyakin kuat, laksanakan habis-habisan. The dream will come true. Yakin deh the rest of the world pasti nurut." Wow, Rambo banget.
Jadi bagaimana rencana atau strategi ke depan? Menambah investasi, memperluas usaha, bertahan, atau justru mengurangi kegiatan? Bagaimana kalau pakai asumsi linier? Kalau cyclical seperti roda pedati? Merespons tantangan? Atau yakin saja maju terus ala the Lone Ranger?
Apapun skenario yang dipercaya dan strategi atau tindakan yang diambil, akan lebih baik kalau tiap skenario dibuat dan dikembangkan strategi tindakan yang sesuai untuk masing-masing. Walaupun nantinya yang dipilih adalah salah satu strategi, namun letihan (exercise) dengan berbagai scenario tersebut akan membuat kita siap untuk menghadapi realita yang akan terjadi di tahun depan. Dengan kata lain, sebaiknya siap dengan Plan A, Plan B, Plan C, dan kombinasinya.
Ringkasan dan praktik:
1. Tidak semua kecenderungan masa mendatang bisa diprediksi dengan data, seperti hasil pemilu, perubahan iklim, karena itu diperlukan penyusunan scenario.
2. Ada empat pola scenario yang layak dipertimbangkan: perubahan linier, perubahan berulang (siklus), tantangan vs respons nya (dialektis), serta maju terus tanpa peduli factor-faktor yang berubah.
3. Pola skenario mana yang akan terjadi, tidak ada yang tahu. Oleh karena itu, ada baiknya dilakukan latihan (exercise) pengambilan keputusan atau penyusunan rencana berdasarkan tiap pola scenario.
4. Pilih salah satu scenario yang disepakati sebagai yang paling mungkin terjadi, dan pilih satu keputusan dan rencana berdasarkan scenario terpilih.
5. untuk mengantisipasi risiko, ada baiknya dilengkapi dengan Plan B dan Plan C, sesuai pola scenario yang lain, yang masih mungkin terjadi.
Risfan Munir, konsultan, pelatih di bidang manajemen dan perencanaan, serta penulis buku “Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif” (2006). Tinggal di Jakarta, email: risfano@yahoo.com.
Subscribe to:
Posts (Atom)