Sunday, December 16, 2007

Anchoring Emosi Positip

Manakala kita mendengar raungan mobil polisi, dan melihat lampu biru menyala-nyala di kaca spion mobil kita, segera kita memeriksa apa-apa ‘kesalahan’ yang kita lakukan. Walaupun ternyata mobil polisi itu hanya lewat. Hal itu terjadi karena dalam pikran kita telah terbentuk asosiasi antara kehadiran suara dan lampu mobil polisi dengan ‘tilang’. Inilah yang disebut jangkar (anchor), yang memicu sikap dan tindakan tertentu.

Proses dimana suatu respons internal diasosiasikan dengan pengalaman eksternal atau internal itu disebut anchoring. Ini sesuai dengan fungsi jangkar untuk mengikat kapal di tempatnya, suatu jangkar akan menjadi acuan atau patok untuk mengikat pengalaman. Ini bisa dikaitkan dengan penelitian Pavlov untuk meneliti respons anjing atas bel yang dibunyikan saat mereka diberi makanan. Tiap kali memberi makanan, bel dibunyikan. Itu dilakukan berulang, hingga suatu saat bel dibunyikan tapi makanan tidak diberikan. Ternyata anjing-anjing itu tetap mengeluarkan air liurnya, karena pikirannya mereka telah belajar, bahwa bunyi bel terkait dengan datangnya makanan.

Jangkar pikiran ini terjadi alamiah, sehari-hari. Apa yang kita lihat, dengar, rasakan, bau, dan sentuh setiap hari dapat mengundang kenangan dan perasaan. Kadang perasaan yang menyenangkan, walau kadang perasaan buruk juga.

Jangkar pikiran atau anchor itu dapat dibentuk untuk kepentingan kita, sehingga dengan ”simbol” tertentu dengan cepat kita dapat mengundang perasaan atau emosi positip yang kita kehendaki. Ini penting karena sering kali kita perlu menghadirkan tidak hanya perasaan tapi juga tindakan refleks tertentu. Misalnya, kita otomatis akan menginjak rem kendaraan saat melihat lampu rem kendaraan di depan menyala. Itu berlangsung cepat, tanpa harus dipikir dulu, karena memang tidak cukup waktu untuk memikirkannya. Dengan kata lain berlangsung dengan kendali pikiran tanpa-sadar (unconscious).

Untuk menghasilkan tindakan atau sikap tertentu secara cepat dapat diciptakan jangkar pikiran. Misalnya menghadirkan perasaan percaya diri, alangkah bergunanya kalau tidak harus berfikir dan membayangkan kenangan indah dulu, tapi hanya satu dengan sentuhan pada telinga saja.

Beberapa pelatih manajemen menggunakan anchoring spatial (ruang), misalnya dengan selalu berdiri di sebelah kiri saat menerangkan pelajaran, berdiri di tengah ruangan saat melontarkan pertanyaan. Jika ini dilakukan berulang kali, maka siswa akan belajar, dan otomatis akan sisp-siap menjwab saat sang instruktur berdiri di tengah ruangan. Atau pelatih memutar lagu tertentu setiap saat siswa harus masuk lagi ke dalam kelas, sehingga tanpa dipanggil-panggil mereka otomatis masuk kelas saat lagu itu diputar.

Bagaimana membentuk anchor?

Ada beberapa prinsip yang perlu dipenuhi agar anchor yang terbentuk efektif bekerja. Antara lain, pemicu yang dibuat haruslah bersifat unik, dilakukan kalibrasi beberapa kali agar betul-betul bisa berfungsi.

Keunikan stimulus yang dimaksud menyangkut: (a) intensitas, (b) kemurniannya, (c) waktu (timing), dan (d) konteksnya. Intensitas, menyangkut kekuatan sensasi yang diasosiasikan dengan pemicu yang dibuat. Misalnya, untuk menciptakan anchor ”percaya diri”, perlu dihadirkan kenangan saat rasa ’percaya diri’ sangat tinggi. Apa yang dilihat, didengar, dirasa saat itu, kuatkan warna, cahaya, bunyi, dan kesan perasaan yang hadir. Sehingga saat anchor, misalnya ’memegang telinga’ akan mudah memicu hadirnya sensasi percaya diri tersebut.

Kemurnian, artinya stimulus ’memegang telinga’ yang kita ciptakan memang betul-betul murni dikaitkan dengan peristiwa spesifik saat ’percaya diri’ besar dengan sensasi kuatnya, dan tidak tercampur dengan kesan lain. Waktu atau timing, agar efektif maka saat penerapan anchor tersebut haruslah benar-benar tepat waktu. Menyusunnya saat kondisi emosi kita sangat kuat. Konteks, maksudnya sebagian anchor efektif hanya kalau situasi saat dihadirkannya persis mirip saat pengalaman (percaya diri) itu terjadi.

Langkah pembentukan anchor agar betul-betul efektif berfungsi, antara lain meliputi:
1. Perjelas hasil (outcome) yang ingin dicapai dengan penggunaan anchor ini, dan sikap apa yang akan dihadirkan,
2. Hadirkan dan jangkar sikap yang ingin kita inginkan itu menggunakan kondisi yang tersusun dengan baik (sensasinya kuat),
3. Uji keefektifannya dengan memanggilnya (misal ’memegang telinga’) beberapa-kali

Anchoring Sumber Daya

Jangkar sumber daya ini memungkinkan suatu sikap (positip) tertentu dihadirkan pada saat dibutuhkan. Misalnya, kita akan menghadiri suatu pertemuan penting, akan sempurna kalau kita saat itu dalam kondisi percaya diri dan mantap. Langkah-langkah untuk menciptakan anchor ini adalah sebagai berikut:
1. Identifikasi situasi dimana kita rasa akan membutuhkannya;
2. Pilih sikap yang kita inginkan pada situasi itu, misalnya sikap “percaya diri,”
3. Ingat-ingat saat kita mengalami ”percaya diri” yang tinggi. Lihat apa yang tampak saat itu (orang, benda, ruangan atau pemandangan), dengar suara (musik, percakapan, keheningan lingkungan) yang terjadi, dan rasakan perasaan (panas, dingin, lembut, senang), kalau perlu juga bau (wangi, bau makanan) yang terjadi waktu itu. Cek dan rekam detail sensasinya, kuatkan dengan membesarkan, menguatkan warna dan cahayanya, mengeraskan, merasakan lebih dalam;
4. Pilih tiga anchor, satu kinestetik (terkait sentuhan), satu visual (gambar), satu auditori (terkait bunyi). Yang kinestetik bisa sentuhan pada satu bagian dari tubuh yang janrang kita sentuh, misalnya sentuhan pada telinga, colekan pada lutut, cubitan pada paha. Yang visual, bsa sekedar mengingat apa yang terlihat saat kita mengalami percaya diri yang hebat dulu. Dan anchor auditory bisa dengan mengucapkan kata tertentu, seperti ”pede”, ”yes”atau ”merdeka,” tapi tidak perlu diucapkan dengan keras;
5. Mulai dengan mengulang pengalaman saat sangat ”percaya diri” tersebut. Saat ingatan akan pengalaman ini hadir, saat itu pula praktekkan anchor yang telah kita buat;
6. Lalu, alihkan perhatian (break) dengan melakukan kegiatan lain, misalnya jalan sekitar meja atau keluar ruangan sebentar;
7. Kembali, ulangi langkah 5 beberapa kali, dan tiap kali perbaiki pengalaman dengan menguatkan kesan atau sensasi suasana yang dipanggil hingga optimal;
8. Uji asosiasi dengan mempraktekkan achor tersebut. Kalau kita rasakan telah terjadi asosiasi anchor dengan kesan yang diinginkan berarti anchor itu sudah jadi, tinggal melatih lagi nantinya. Tetapi kalau belum bekerja, berarti perlu mengulang lagi langkah 5-7 hingga anchor itu berfungsi baik;
9. Identifikasi beberapa situasi dimana kita memerlukannya. Bayangkan hadirnya sikap yang kita butuhkan itu saat anchor pemicu tersebut kita gunakan.

Berkenalan dengan NLP (Neuro Linguistic Program)

Seorang instruktur memberikan komando, “Sambil tetap tutup mata, bernafas dengan teratur. Rileks, rileks, rileks. Sementara itu bayangkan di tangan ada irisan jeruk nipis, bayangkan perlahan buka mulut, lalu peraslah jeruk itu perlahan, rasakan tetes-tetesan airnya jatuh pada lidah…..rasakan asamnya, ya asam sekali, peras lagi, ya akin asam lagi …” Walaupun itu hanya khayalan, bagaimana reaksi air ludah di mulut kita, bagaimana raut muka kita saat membayangkan tetesan air jeruk nipis dan rasanya yang sangat asam. Begitulah awal perkenalan saya dengan NLP, dengan satu prinsip atau bahwa pikiran bisa “menipu, memperdaya atau mengakali” respons spontan yang tidak kita sadari (unconscious mind).

Apakah NLP itu?

Awalnya adalah pikiran. Kita bersikap, bertindak karena ada dorongan dari pikiran. Sedang pikiran sendiri dipengaruhi atau dipicu oleh stimulan tertentu dari luar maupun dari dalam diri kita. Misalnya, pagi-pagi kita membaca berita yang terkait dengan ide kita menulis, yang selama ini sudah kita lupakan. Gara-gara stimulant berita tersebut, memori dalam pikiran kita terkuak kembali, sehingga timbul hasrat kita untuk menulis topik tersebut lagi. Atau, dari dalam diri, karena kondisi kesehatan kita yang memburuk, maka kita jadi murung, atau jengkel karena tugas menumpuk tapi badan tidak bisa diajak kerja sama. Akibatnya, seharian kita bisa murung, jengkel, yang akhirnya mengganggu kegiatan yang lain, dan raut muka yang kusam, kata-kata yang murung membuat reaksi orang disekitar kita juga negative.

Pertanyaannya adalah: apakah pikiran kita, dan tindakan yang mengikutinya hanya menjadi suasana, dari luar maupun dari dalam diri? Padahal mestinya kan pikiran kita yang mengendalikan, bukan dikendalikan. Idealnya kan dengan “pimpinan” ide dan kesadaran yang ada dalam pikiran tersebut, semua sikap dan tindakan dapat diarahkan dan dikendalikan. Jika kita tiap hari disodori dengan persoalan kemacetan lalu lintas, korupsi, harga minyak, yang semua membuat pikiran kita “murung dan jengkel”, apa kita seumur hidup akan menjadi korban dari kondisi dan situasi buruk tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan itulah NLP memberikan pemahaman yang dapat dipakai untuk menjelaskan “kuasa” pikiran, tapi juga sekaligus juga pelajaran, teknik-teknik bagaimana mempengaruhi, bahkan “mengakali” pikiran, agar dapat berfikir sesuai dengan yang kita harapkan. Oh ya, NLP adalah singkatan dari neuro linguistic program, yang secara bebas dapat dimengerti sebagai “bahasa pemrograman pikiran” kita. Ini dapat dianalogkan dengan bahasa program computer seperti SQL, html, dan seterusnya.

Salah satu prinsip NLP menyatakan “the map is not the territory”, ini adalah prinsip penting yang menyatakan bahwa yang ada dalam pikiran kita adalah proyeksi atau kesan dari ”realita”, dan bukan realita yang sesungguhnya. Proyeksi atau kesan atau persepsi atas realita tersebut terbentuk di pikiran setelah melalui “saringan” (filter) pengetahuan dan pengalaman pribadi kita sendiri. Artinya, untuk “realita” yang sama setiap orang bisa punya kesan yang berbeda. Gelas “setengah isi” bagi seseorang bisa dilihat sebagai “setengah kosong” bagi yang lain, sehingga sikap dan reaksi tiap orang bisa berbeda.

Dengan prinsip itu, maka sebetulnya pikiran kita punya pilihan kesan, sikap, yang berimplikasi kepada tindakan. Dengan mempelajari NLP, diharapkan bahwa kita dapat memilih sikap pikiran tersebut secara “yang kita kehendaki”, tidak sekedar reaktif terhadap situasi luar yang “memprovokasi” pikiran. Sebaliknya kita berharap dapat mengelola sikap dan reaksi pikiran tersebut.

Jadi, sekali lagi, NLP dapat dimengerti sebagai bahasa untuk kita berdialog dengan “pikiran” sendiri.

Mengapa NLP?

Ya, mengapa kita memerlukan hal seperti NLP ini? Untuk menjawab pertanyaan ini, baiklah kita fahami dulu perlunya berdialog dengan pikiran sendiri. Selain agar pikiran kita bisa “memimpin” dan tidak mudah reaktif seperti diuraikan di atas, kita juga perlu berdialog dengan pikiran sendiri ini agar bisa mengembangkan pilihan-pilihan sikap dan tindakan sebagai respons kita atas situasi yang yang memicu kita dari luar. Misalnya, menghadapi “tekanan” karena berita banjir dan kelambatan pemerintah daerah dalam bertindak. Pikiran bisa kita arahkan untuk memilih sikap: marah, atau pasrah masa bodoh, atau secara positif melihat peluang untuk membantu (beramal).

Tetapi apakah sebegitu mudahnya kita berdialog dengan pikiran? Karena, boleh jadi begitu membaca tentang kejadian banjir, melihat foto korban, dan mendengar penyataan pejabat yang tidak pas, emosi kita langsung meluap, pikiran hanya marah, atau berkata “ah bosan”. Apakah kita bisa mengendalikan pikiran yang spontan seperti itu, yang bereaksi spontan di luar kesadaran (unconscious)? Jawabannya adalah bisa. Dan itulah salah satu manfaat dari NLP, karena dengan ”bahasa program pikiran” ini dimungkinkan untuk berdialog dan mengendalikan pikiran hingga kepada tingkatan ”bawah sadar” (sub-conscious).

Dengan teknik NLP yang memungkinkan kita untuk mengakses pikiran ”bawah sadar”, maka dimungkinkan untuk dapat berdialog dan mempengaruhinya melalui ”pintu” dan bahasa yang dimengerti oleh pikiran ”bawah sadar” tersebut. Sebagai contoh kita juga bisa berdialog dengan pikiran ”bawah sadar” tersebut tentang mengapa kita melakukan kebiasaan-kebiasaan ”buruk” yang sebetulnya dalam keadaan sadar ingin kita hindari atau hentikan. Ini misalnya bagi yang ingin berhenti merokok, minum alkohol, ngemil makanan manis-manis. Sudah banyak upaya untuk menghentikan, mengalihkan dengan sesuatu pengganti (substitusi) tapi kok ya masih mengonsumsinya terus.

Jadi, NLP sebagai bahasa program pikiran, bermanfaat bagi kita untuk bisa berdialog dengan pikiran hingga tingkatan ”bawah sadar” (subconscious), yang akan bermanfaat untuk mengendalikan pikiran dan sikap atau tindakan yang sering spontan, di luar kontrol, dan sulit dikendalikan (unconscious).

Pintu Masuk ke Pikiran Bawah Sadar

Telah disinggung di atas, bahwa untuk mengakses atau berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar perlu melalui ”pintu”, yaitu yang disebut recticular activating system (RAS) atau ”kisi-kisi penyaring” yang akan terbuka kalau pikiran seseorang berada dalam kondisi yang tenang, rileks, berfokus hanya satu perhatian saja, situasi dengan gelombang 7-13 cps (putaran per detik), antara sadar dan seperti akan tidur. Situasi yang disebut Alpha di atas.

Dengan terbukanya kisi-kisi atau filter, maka pikiran sadar yang sebenarnya maksimal hanya 12% dari kemampuan otak yang sesungguhnya akan terhubung dengan yang 88%, yang merupakan pikiran bawah sadar. Dapat dibayangkan betapa bermanfaatnya kalau seseorang dapat meningkatkan kemampuan berfikirnya dengan membuka dan mengakses potensi pikiran sesungguhnya.

Untuk itu disarankan untuk sebanyak mungkin melatih diri agar bisa lebih sering berada dalam posisi Alpha, sehingga apa-apa yang dibaca, didengar, diamati bisa masuk ke dalam memori dengan baik. Sebaliknya akan semakin besar pula kapasitasnya untuk dapat mengakses, mendaya gunakan memori yang ada pada pikiran bawah sadar, makin lancar (encer) dan makin mudah menghubungkan satu informasi dengan informasi lainnya. Bukankah sebenarnya berpikir adalah menghubungkan satu informasi dengan informasi lainnya di dalam pikiran. Dan, para ahli juga mengatakan makin sering terjadi hubungan satu bagian dengan bagian lainnya di dalam otak, maka makin ”kuat” lah saluran darah di antaranya. Dengan kata lain makin cerdaslah orang itu.

Bahasa Program Pikiran

Setelah pintu kisi-kisi penyaring (RAS) antara pikiran sadar dan bawah sadar dapat dibuka, maka apa yang akan dikomunikasikan antara keduanya? Ini tentu tergantung dari tujuan orang tersebut, bisa untuk memasukkan atau memanggil memori seperti analogi dengan cara kerjanya komputer. Namun untuk kepentingan obrolan atau diskusi kita yang menyangkut ”sikap dan perubahan perilaku atau kebiasaan”, maka yang perlu dibahas adalah ”bahasa program” yang terkait dengan sugesti tersebut.

Terkait dengan sugesti, para ahli menyatakan bahwa pikiran bawah sadar hanya mengenal ungkapan bahasa yang, positif, sekarang, bersifat pribadi, dan spesifik. Positip contohnya,”aku penulis cepat,” jangan katakan,”aku bukan penulis lambat,” karena kata ”tidak” itu tak dibaca. Kedua, sekarang, maksdunya hindari penggunaan kata ”sedang/akan/mau,” karena akan melemahkan sugesti. Ketiga, bersifat pribadi, contohnya, ”aku bekerja keras untuk membiayai anak” dan bukan ”anakku rajin belajar,” karena anak bukan pribadi kita sendiri. Keempat, spesifik besaran, waktu, warna, dan seterusnya.

Pikiran bawah sadar juga lebih mudah berkomunikasi dengan bahasa non-verbal, yaitu simbol, warna, bunyi irama, rasa atau raba atau visual, auditory, kinetetic (VAK); daripada bahasa verbal berupa argumentasi kata-kata atau formula angka-angka. Ini bisa dibuktikan dengan, misalnya kita lebih mudah mengingat irama lagu, daripada syairnya. Silahkan mengingat lagu lama, yang dulu pernah menjadi favorit. Lebih mudah mana mengingat irama lagu atau liriknya?

Pemahaman bahasa program pikiran ini penting agar kita (pikiran sadar) dapat berkomunikasi dengan lebih baik dengan pikiran bawah sadar. Seperti telah disinggung, manfaatnya bisa untuk memanggil memori, menghubungkan antar informasi, memberi sugesti dan motivasi kepada diri sendiri, dan seterusnya.

Risfan Munir, konsultan, pelatih di bidang manajemen dan perencanaan, serta penulis buku “Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif” (2006). Tinggal di Jakarta, email: risfano@yahoo.com.

Sukses Dengan Berfikir Antisipatif

Bagaimana situasi tahun depan? Ini adalah pertanyaan yang selalu diajukan dalam merencanakan strategi di tahun mendatang. Sejauh itu bisa diprediksi, ada data atau angka-angka pertumbuhan/penurunannya dapat dihitung, maka tidak ada masalah. Tinggal memproyeksikan data masa lalu ke masa depan, lalu dibuat rencana sesuai prakiraan tersebut. Namun tidak demikian jika menyangkut faktor-faktor yang sulit diprediksi sebelumnya.

Beberapa faktor yang tak dapat diduga sebelumnya antara lain: keputusan politik pemerintah atau hasil pemilu atau pilkada, kejadian ekonomi yang besar pengaruhnya seperti harga bahan bakar, dampak perubahan iklim dan inovasi teknologi. Untuk perubahan faktor-faktor yang sulit diprediksi ini akan diperlukan penyusunan skenario perubahan. Ini menyangkut asumsi dan sikap berfikir sang perencana, sehingga obrolan tentang pemrograman pikiran menjadi relevan.

Untuk menghidupkan obrolan ini, ilustrasi fiktif berikut ini mencoba menunjukkan bagaimana seseorang menyusun skenario berdasarkan persepsi masing-masing atas faktor-faktor yang berpengaruh dan bagaimana hasil skenario tersebut dipilih.

Empat Peramal, Empat Skenario

Pada hari-hari antara Natal dan Tahun Baru seperti ini biasanya saya lebih suka istirahat di rumah. Sambil melakukan retrospeksi. Evaluasi ke belakang, untuk menatap tahun depan. Tapi sudah dua minggu ini aku menunda-nunda janji untk mengantar Do’i ke mal. Jadi dengan berat hati terpaksa ikut memadati shopping-center yang tampak kewalahan menampung jejalan pengunjung.

Sambil menunggu Do’i yang asyik di department-store, meski berdesakan di lantai dasar Megamal saya sempat melirik ke deretan ruang-ruang bersekat. Di depan deretan ruang itu tertulis ”Festival Ramalan 2008”. Ah, daripada bete berdesakan lebih baik iseng-iseng masuk ke salah satu ruang. Sedikit bertualang, siapa tahu dapat cerita baru.

Pada stand ini terpampang nama: Ki Garis. Mungkin untuk menguatkan citranya di dinding tergambar berbagai macam garis (lurus, lengkung, menaik, menurun).
Silahkan Bang, ada yang Ki Garis bisa bantu? Barangkali soal nasib pekerjaan, rumah-tangga, atau yang lain”. Wah, saya mau tanya apa ya? Tapi namanya iseng, saya tanya: ”Soal investasi Ki. Bagaimana kira-kira prospek investasi reksadana tahun depan?” Sedikit ngetest begtu.
Jawab Ki Garis:”Sama dengan soal lain, soal investasi juga soal garis. Coba Anda ingat-ingat beberapa bulan kemarin dinamika harganya seperti garis yang mana (sambil dia tunjukkan kepada saya berbagai macam penggaris lurus dan lengkung).” Setelah mengingat dan mengira-ngira saya pilih satu penggaris lengkung yang mirip belati panjang di bendera Saudi. ”Yah, begitulah trend sampai pertengahan tahun depan” ujar Ki Garis. Ah! Soal investasi reksadana Oke, tapi asam urat bisa runyam nih.

Yang berbelanja belum selesai, maka saya masuk ke stand kedua yang menampilkan Mama Mollen. Sesuai namanya di dinding tergambar kincir air, juga miniatur angin di mejanya. ”Reksadana?” menegaskan pertanyaan saya. Atas anggukan saya Mama Mollen melanjutkan:”Seperti roda kincir ini Bang, perubahan selalu naik-turun. Jadi kalau selama enam bulan lalu naik tajam. Enam bulan ke depan tanda-tandanya masih naik, walau mulai melamban. Tapi, waspadai tanda-tanda kulminasinya. Karena setelah itu akan menurun.” Tiba-tiba terdengar hentakan suara Shirley Bassey, “What goes up must come down. Spinning wheel got to go around…”

Masuk stand ketiga ketemu Ni Pegas. Sesuai namanya, suasana ruangan dipenuhi dengan kesan pegas, kenyal, dan bola-bola besar kecil. Di maja ada pendulum stainless steel, yang terus bergoyang kanan-kiri. ”Kondisi ke depan, seperti pendulum ini, kalau kita sorong ke kanan, maka akan balik sesuai kekuatan dorong kita.” setelah menatap saya sebentar, dia lanjutkan: ”Challenge and response, begitu prinsipnya. Apa yang Anda lakukan, akan direspons oleh orang-orang. Itu yang harus selalu diperhitungkan. Jadi waspadai trend tersebut.” Berarti waspada serangan balik. Tapi soal asam urat mesti direspons dengan diet nih.

Stand ke-empat agak lain. Ruangan Mr. Rambo ini interiornya dipenuhi gambar poster film-film Rambo, Commando, Terminator, ada juga yang jadul seperti the Lone Ranger.
"Nomor satu adalah pede (percaya diri). Maju saja, termasuk dalam investasi, sesuai keyakinan kita. Kalau berkeyakin kuat, laksanakan habis-habisan. The dream will come true. Yakin deh the rest of the world pasti nurut." Wow, Rambo banget.

Jadi bagaimana rencana atau strategi ke depan? Menambah investasi, memperluas usaha, bertahan, atau justru mengurangi kegiatan? Bagaimana kalau pakai asumsi linier? Kalau cyclical seperti roda pedati? Merespons tantangan? Atau yakin saja maju terus ala the Lone Ranger?

Apapun skenario yang dipercaya dan strategi atau tindakan yang diambil, akan lebih baik kalau tiap skenario dibuat dan dikembangkan strategi tindakan yang sesuai untuk masing-masing. Walaupun nantinya yang dipilih adalah salah satu strategi, namun letihan (exercise) dengan berbagai scenario tersebut akan membuat kita siap untuk menghadapi realita yang akan terjadi di tahun depan. Dengan kata lain, sebaiknya siap dengan Plan A, Plan B, Plan C, dan kombinasinya.

Ringkasan dan praktik:
1. Tidak semua kecenderungan masa mendatang bisa diprediksi dengan data, seperti hasil pemilu, perubahan iklim, karena itu diperlukan penyusunan scenario.
2. Ada empat pola scenario yang layak dipertimbangkan: perubahan linier, perubahan berulang (siklus), tantangan vs respons nya (dialektis), serta maju terus tanpa peduli factor-faktor yang berubah.
3. Pola skenario mana yang akan terjadi, tidak ada yang tahu. Oleh karena itu, ada baiknya dilakukan latihan (exercise) pengambilan keputusan atau penyusunan rencana berdasarkan tiap pola scenario.
4. Pilih salah satu scenario yang disepakati sebagai yang paling mungkin terjadi, dan pilih satu keputusan dan rencana berdasarkan scenario terpilih.
5. untuk mengantisipasi risiko, ada baiknya dilengkapi dengan Plan B dan Plan C, sesuai pola scenario yang lain, yang masih mungkin terjadi.


Risfan Munir, konsultan, pelatih di bidang manajemen dan perencanaan, serta penulis buku “Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif” (2006). Tinggal di Jakarta, email: risfano@yahoo.com.

Mengembangkan Ide-ide Kreatif yang Siap Dilaksanakan

If your mind can conceive it, and your heart can believe it, you can achieve it. (Jesse Jackson)

Dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan terutama di tempat kerja, kita sering harus berfikir dan mengerahkan kreativitas kita dalam menyusun rencana, merancang produk/jasa ataupun acara. Dalam situasi itu kita disarankan untuk bisa berfikir se bebas-bebasnya, agar semua kretivitas dapat dimunculkan tanpa kendala. Namun kenyataannya, berfikir bebas itu ternyata sulit, karena pada saat itu juga kita dihantui oleh risiko-risiko gagal, malu kalau tidak perfect, dst. Akibatnya,proses berfikir kreatif menjadi terkendala, atau bahkan ide cemerlang menjadi buyar.

Peoses berfikir kreatif memang sering bertabrakan, konflik dengan pemikiran kritis. Oleh karena itu diperlukan strategi berfikir yang lebih positif, tidak saling meniadakan. Untuk permasalahan seperti itu NLP punya kiat yang dipelajari oleh penemu NLP. Kiat ini disebut model berfikir ala Walt Disney, yang terdiri dari tiga tahap. Model berfikir ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu tahap kratif, tahap kritis.

Pertama, berfikir kreatif. Perankan diri kita sebagai si Kreatif yang memulai rancangan dengan menggali dan mengungkapkan, menulis ide secara bebas. Seperti seniman "urakan" yang duduk di sebuah taman yang hijau, di teduhi pohon rindang, tanpa peduli keadaan sekeliling, apalagi komentar orang. Ide-ide dibiarkan mengalir secara bebas, tanpa peduli logika atau format, tata bahasa atau aturan lainnya. Yang penting adalah mengungkap ide seluas-luasnya, dengan cepat. Mengapa harus cepat? Karena daya konsentrasi kita tidak bisa berlangsung terlalu lama. Kalau sudah terinterupsi biasanya kembalinya juga butuh waktu yang lama. Jangan pula risau soal bahan, referensi, nanti saja itu, yang penting semua ide tertuang dahulu. Mencari referensi, membaca buku/artikel bisa membuyarkan ide original, dan memudarkan momentum menulis.

Kedua, berfikir logis/realistis. Setelah tahap kreatif diatas dianggap memadai, kita berganti peran sebagai Si Logis. Bayangkan kita menghadapi setumpuk naskah, atau draft desain, yang diserahkan oleh seorang penulis atau seniman. Tugas kita harus mematangkannya.
Maka yang akan kita lakukan adalah: melihat sistematika dan kelengkapannya. Lalu menilai apakah kerangka sudah logis, strukturnya mengikuti kaidah-kaidah dan standar yang wajar dan konsisten. Apakah detail-detailnya sudah memadai, lengkap dengan unsur spesifik yang menguatkan keunikan dan citra yang ingin ditonjolkan. Tugas si Logis disini yang mensistematisir, membuatnya lebih fokus dan konsisten pada tema utama, serta melengkapinya dengan detail, gaya, unsur-unsur yang unik, menggugah perasaan penikmat.

Ketiga, berfikir kritis. Kini saatnya pekerjaan di alihkan kepada Si Kritikus. Sesuai namanya, disini kita berperan sebagai tukang kritik. Mulai dari menantang tema, tujuan, hipotesis, asumsi yang digunakan. Menantang sistematika, konsistensi pengungkapan atau penulisan. Hingga sikap kritis terhadap aspek-aspek teknis dan finishing, seperti tata bahasa, titik koma, dan kaidah-kaidah dasar lainnya.

Si Kritikus perlu bersikap sebagai lawan, atau penguji, atau anggota tim penilai atas proposal atau karya. Memposisikan diri sebagai pembeli, konsumen atau pengguna. Sehingga hasil yang diharapkan adalah karya yang tahan uji, dan layak jual.

Dengan memerankan ketiga aktor/aktris tersebut, maka ketiga peran tersebut masing-masing diberi kesempatan untuk berkontribusi. Karena kalau tidak, biasanya, ketiganya bisa saling mengganggu. Saat menggali ide dan mengungkapkan gagasan, muncul gangguan untuk mengoreksi, mengedit; atau "ancaman" dan kekuatiran kalau ditolak, ditertawakan oleh penguji atau konsumen.

Ketiga tahapan tersebut bisa diulang (iterasi), sampai dirasa lengkap dan meyakinkan untuk disajikan kepada penikmat.

Praktik:
1. Silahkan Anda mengambil posisi relaks, santai, bernafas dengan teratur, lupakan sejenak urusan apapun.
2. Cobalah mengingat suatu saat dimana Anda merasa sangat Kreatif, cobalah ingat kapan dan peristiwa apakah itu. Kalau sudah, beralih ke saat Anda merasa sangat Realistis, bayangkan peristiwanya, apa yang Anda pikir dan rasakan. Kemudian, beralih ke saat-saat dimana Anda sangat Kritis, tajam melihat persoalan, ingat-ingat peristiwa apa itu, bagaimana pikiran dan perasaan Anda saat itu.
3. Cobalah ambil ide, rencana kegiatan, atau rancangan produk yang akan Anda garap.
4. Bawalah Ide tersebut ke situasi dimana Anda dalam kondisi yang Kreatif, secara bebas keluarkan gagasan apapun, se ideal-idealnya, seaneh-anehnya, hingga jadi Ide yang betul-betul Anda iinkan.
5. Bawalah Ide yang kreatif itu ke situasi dimana Anda sangat Realistis. Kaitkan dengan sumber daya yang ada, baik waktu, dana, kapasitas organisasi dan manusia yang ada atau Bisa diadakan, dan sesuaikan Ide Anda dengan pikiran-pikiran realistis.
6. Berikutnya, bawa Ide dan usulan penyempurnaan si Realis itu ke situasi dimana Anda merasa jadi Kritikus. Cobalah mengkritisi Ide tersebut secara konstruktif, adakah yang kurang, risiko gagal atau 'diserang' lawan, dan seterusnya. Lalu sesuaikan Ide tersebut, sehingga menjadi Ide kreatif yang sudah disesuaikan dengan realita kondisi, dan diuji secara kritikal.
7. Kalau Anda kurang puas, masih ada yang mengganjal, maka silahkan mengulang proses kreatif, reastis, dan kritis tersebut.

Saturday, December 15, 2007

Cara Membangun Perasaan Positip

Manakala kita merasa resah, bimbang, bingung, marah dan kecewa, kita menjadi tertekan. Kondisi ini menghalangi kita untuk mengakses kekayaan potensi sumber daya dalam diri. Bagaimanapun situasi yang kita alami, jika salah satu dari perasaan di atas menimpa, maka kekayaan potensi iu menjadi sia-sia. Pikirkan ketika anda mengalami perasaan tertekan dan ingat apa yang ada dalam pikiran anda. Pikiran bertanggung-jawab atas terciptanya perasaan tidak enak itu. Setiap pikiran berdampak pada perasaan, sehingga cara mengendalikan perasaan adalah dengan mengendalikan pikiran.
Untuk membuktikan hal ini, silahkan ambil posisi duduk tenang dan pikirkan tentang suatu saat dimana Anda melakukan suatu tindakan yang tidak Anda kehendaki, atau tindakan buruk. Ingat bagaimana perasaan yang timbul. Kemudian, tarik nafas lebih dalam dan ganti pikirkan saat dimana Anda mengerjakan sesuatu yang Anda anggap membanggakan. Bagaimana perasaan yang mengikutinya?

Anda baru saja menggunakan imajinasi untuk memanggil kembali dua pengalaman yang menghasilkan perasaan yang berbeda. Anda dapat menggunakan hubungan antara imaginasi dengan perasaan, yang membuat Anda bisa memilih hadirnya perasaan sesuai kehendak. Perasaan Anda mempunyai berdampak langsung kepada kemampuan Anda, apapun situasinya.

Ini menyangkut pikiran awal yang mempengaruhi

Semua berawal dari satu pemikiran, dan pikiran ini akan mengundang pikran lain yang terkait hingga menghasilkan kesatuan pikiran. Dan, kesatuan pikiran ini akan membentuk pola pikir yang membentuk ”pola kebiasaan.” Kebiasaan ini akan kita terapkan untuk berbagai skenario yang berbada. Para ahli percaya bahwa ”pikiran sadar” kita hanya mampu memainka tujuh satuan informasi pada satu saat dan menjadi cepat kewalahan. Ini artinya kalau kita isi pikiran sadar ini dengan ”pola pikir negatif” yang mengundang perasaan negatif, maka tidak ada tempat untuk yang lain. Dengan mengendalikan maka kita berlatih untuk memilih apa yang akan kita pikirkan, dan dengan makin banyak berlatih, maka akan kian banyak mengembangkan cadangan pola kebiasaan atau refleks positif yang bekerja secara efektif, tanpa harus dipikirkan (unconscious) lagi.

Langkah pertama untuk bisa mengendalikan pikiran adalah menyadari bagaimana pola pikiran itu terbentuk. Saat kita berfikir, kita melakukan proses seleksi internal, untuk menyerap semua informasi dari sekitar yang akan menyebabkan pikiran kita penuh, kita menyeleksi apa yang menurut kita penting dan mengesampingkan yang lainnya. Sebagai contoh, ingat obrolan yang pernah Anda lakukan, acara tivi yang baru kita tonton, berita di koran yang baru kita baca, berapa banyak yang masih Anda ingat?
Kemungkinannya kita akan dapat meringkasnya dan mengingat hanya aspek yang menarik. Yang jelas tidak akan bisa mengingat kata per kata. Proses seleksi internal dalam pikiran telah otomatis memilih informasi tertentu, yang merupakan kombinasi dari gambar (visual), dan suara, yang menarik sesuai perasaan waktu itu. Selebihnya adalah hasil dialog internal, yaitu apa yang telah Anda katakan pada pikiran sendiri tentang situasi yang ada.

Ini adalah bagaimana kita merepresentasikan secara unik tentang realitas yang terjadi, yaitu melalui gambar, suara, dialog internal, perasaan, kadang dengan bau dan rasa. Kita menangkap pemahaman personal kita tentang realitas melalui kombinasi sensasi eksternal dan pikiran internal. Dan versi potret inilah yang akan kita pakai mengambil keputusan dan memberikan penilaian. Ini yang disebut ’internal representation’ atau peta dari realitas.’

Bekerja dengan gambaran visual (visual imagery)

Hadirkan dalam pikiran kenangan yang indah dan nikmati saat-saat yang menyenangkan atau membanggakan itu. Tangkap kesan dan citranya, sebelum kembali meneruskan membaca buku ini.

Coba uraikan citra atau gambaran visual yang melekat dalam pikiran, apakah begitu jelas? Bagaimana warnanya? Apakah gambaran itu terbingkai sekitarnya seperti lukisan, atau tanpa batas yang jelas? Adakah gerakan di sana? Apakah cerah, gelap atau samar? Bagaimana dengan kontras dan detailnya? Bagaimana jaraknya ke diri kita, dan apakah di atas atau di bawah garis cakrawala? Adakah diri kita di dalam gambar tersebut, atau apakah gambar itu memang tentang diri kita?

Sebagaimana kita memandang lukisan, foto atau film, kita dapat melihat detail gambar yang memperjelas pikiran kita tentang kenangan indah tersebut. Detailnya gambaran itu menunjukkan kualitas gambar tentang kenangan indah, tetapi bukanlah kenangan itu sendiri. Jumlah dari kualitas yang berbeda yang dapat kita kerjakan dengan gambaran pikiran tersebut akan ditentukan oleh jumlah latihan yang kita lakukan. Sekali kita secara sengaja menangkap gambaran visual dari kenangan indah itu, maka proses yang sama akan terjadi ratusan, bahkan ribuan kali, tiap hari yang mencerminkan tiap pikiran yang kita miliki. Terkadang kita tidak menyadari dengan penggambaran dalam pikiran, tetapi bagaimanapun, ini akan bermanfaat.

Berikut ini adalah praktek menggunakan penggambaran visual ini, dan bagaimana memanfaatkannya untuk mengubah, memprogram ulang, pikiran dan perasaan kita.

Menyingkirkan perasaan-perasaan buruk

Sebetulnya mudah untuk mengusir perasaan buruk untuk satu situasi dimana kita ingin merasa bisa mengendalikan, dan lebih percaya diri. Mungkin pikiran menghadapi situasi buruk dengan seseorang membuat kita merasa frustrasi, tertekan dan menurunkan rasa percaya diri. Pada saat seperti ini, saat kita merasa tertekan, energi terkuras sehingga membuat perasaan memburuk, justru di saat kita memerlukan kekuatan untuk maju. Saat mengalami perasaan seperti itu, sebenarnya kita memasuki situasi yang disebut ’self-preservation’. Sebagai akibat kemampuan kita untuk berfikir rasional dan mengambil keputusan yang sesuai. Akibatnya, tujuan kita menjadi mengarah kepada mempertahankan diri, menyelamatkan muka, atau mencari perhatian, dan bukan kepada tujuan pencapaian kemajuan yang sebetulnya kita harapkan. Dengan kita mengalami proses seperti ini beberapa kali saja, maka segera terbentuk pola kebiasaan, program pemikiran kita, yang meneguhkan perasaan buruk itu. Untuk itu perasaan buruk itu perlu segera dihilangkan. Caranya antara lain adalah sebagai berikut.

- Teknik menyingkirkan perasaan buruk

Ingatlah suatu kejadian, saat dimana Anda tidak suka dengan apa yang anda rasakan atau lakukan. Sekarang fokus kepada gambaran yang datang dalam pikiran saat Anda mengundang kenangan itu. Lalu dengan cepat buang itu jauh-jauh, sehingga gambar itu kian menjauh, makin tampak mengecil dan mengecil hingga lenyap dari pandangan. Bayangkan seperti pesawat terbang yang sangat besar di depan mata, tetapi dengan cepat menjauh, tampak mengecil, mengecil hingga lenyap di langit biru. Kita dapat melakukan hal yang sama terhadap semua gambar situasi buruk yang ada di kepala. Bayangkan gambar kejadiannya, lalu buang jauh jauh ke langit, lihat dalam pikiran hingga lenyap di langit. Setelah melakukan ini, kalau perlu ulang beberapa kali, lalu rasakan bagaimana perubahannya.

Selanjutnya adalah melatih kebiasaan untuk memilih suatu tindakan yang berbeda, dengan menggunakan teknik berikut.

- Memilih respons yang berbeda

Segara setelah gambaran perasaan buruk itu kita buang, undanglah ke dalam pikiran kenangan indah yang membawa perasaan positip, menyenangkan. atau membanggakan. Saat yang membuat kita merasa percaya diri dan termotivasi. Sekarang uraikan gambarkan visualnya, buat gambar itu berwarna-warni, besar dan cerah. Perjelas kualitas detail tersebut, dan bayangkan perlahan kian mendekat ke kita. Ambil waktu beberapa saat untuk menikmati sensasinya, nikmati perasaan positip, menyenangkan atau membanggakan yang dihadirkan.

Bekerja dengan kesan suara (audio internal) dalam pikiran

Sebagaimana membuat gambaran visual dalam pikiran di atas, kita juga bisa menghadirkan pengalaman dengan bunyi (audio). Ini bisa ingatan akan percakapan, musik, suara dari lingkungan sekitarnya. Sebagian orang punya pengalaman mengingat pembicaraan yang pernah terjadi, mengantisipasi kejadian mendatang, dan mendengarkan (kembali) ucapan dan perkataan orang saat itu. Suara-suara itu ada yang melekat pada gambaran kenangan, ada pula yang terpisah. Bagaimana dengan dialog internal? Kata-kata apa yang sering kita ucapkan dalam pikiran secara berulang-ulang? Suara internal (dalam pikiran) itu sangat kuat dan berpengaruh pada bagaimana perasaan kita saat itu. Tekanan emosi terbawa pada nada bicara kita, ucapan yang kita ingat, atau apa yang kita katakan pada diri sendiri. Ini adalah sesuatu yang perlu dipikirkan – jika kita rekam dialog internal itu, dan kita putas ulang pada waktu yang lain, apakah itu akan memotivasi atau sebaliknya mengundang perasaan buruk?

Kita dapat menggali, mengembangkan kualitas suara-suara internal dalam pikiran itu, sebagaimana kita lakukan dengan gambaran visual. Gunakan teknik berikut ini, apa yang Anda rasakan jika Anda membayangkan kejadian saat mendatang. Ini dapat digunakan untuk berbagai situasi, saat Anda ingin menghadirkan perasaan positip tertentu. Bagaimana perasaan yang ingin Anda hadirkan saat Anda bangun pagi besok? Saat Anda berangkat kerja besok? Saat pasangan Anda melakukan seuatu yang kurang menyenangkan bagi Anda? Barapa banyak variasi suara yang dapat Anda ciptakan untuk diri sendiri?

Gunakan inner voice untuk merubah perasaan menjadi positip

Pikirkan tentang acara mendatang yang penting bagi Anda, dan putuskan perasaan apa yang ingin Anda rasakan saat itu. Sekarang pilih seorang (aktor) yang Anda suaranya bagus dan pas dengan energi yang Anda ingin miliki saat di acara tersebut. Bayangkan acara itu baru akan mulai dan lakukan percakapan dengan diri Anda dengan nada suara yang Anda pilih itu. Sebagai contoh, Anda mungkin ingin perasaan percaya diri, dan yakin mencapai hasil. Anda memilih suara seorang aktor yang berkata, ”Ini adalah hari terpenting bagi saya. Saya akan melontarkan satu pertanyaan sulit dan mengharapkan jawaban yang jelas. Saya akan positip, berfokus, dan tegas mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.” Sekarang ucapkan lagi dan keraskan volumenya. Atur nada dan temponya hingga Anda merasa percaya diri dan mantap.

Anda juga bisa mengecilkan volume suranya manakala dialog internal terbawa menjauh dengan sendirinya. Saat Anda mengulangi dialog negatip berulang-ulang, katakan pada diri sendiri kekacauan yang tercipta dari ini dan itu, atau kocok problema pekerjaan saat Anda berusaha untuk tidur, dengan cara sederhana yaitu kecilkan volume suaranya dan perhatikan suara itu menjauh dan menghilang hingga lenyap sama sekali. Anda juga bisa mengubah suara negatif dengan suara humor seperti lagu jenaka, atau ucapan lucu ”ah, gitu saja kok repot”, ”emangnya gue pikirin”. Aatau bahkan lagu mars yang paling Anda ingat, ”Hallo, hallo Bandung, ibukota Periangan.....” Rasakan bagaimana mudahnya perasaan negatif itu bisa kita usir. [Risfan Munir]

Menyadari dan Mengembangkan Kepercayaan Baru

Dalam kehidupan sehari-hari tiap orang mempercayai ini dan itu, yang boleh jadi menguntungkan atau sebaliknya merugikan dirinya dan orang lain. Kepercayaan tersebut dilatar belakangi oleh sistem nilai yang diyakininya.

Sebagai contoh, jika Anda yakin pada "rasa percaya" atau amanah (trust) itu ada, maka Anda akan mudah meyakini bahwa:
- Orang lain dapat dipercaya
- Peraturan yang ketat tidak diperlukan
- Orang dapat mengatur jadawalnya sendiri
- Anak kita akan langsung pulang dari sekolah.

Sebaliknya jika "rasa tidak percaya" yang mendominasi keyakinan kita, maka yang kita pikirkan:
- Hanya orang bodoh yang mempercayai orang lain
- Peraturan ketat harus dibuat supaya orang tidak
- Jika tidak diawasi maka orang akan bertindak menunda-nunda pekerjaannya
- Anak harus sering ditilpon agar dari sekolah tidak mampir ke mal.

Rasa percaya atau tidak percaya itu terbentuk dari pengalaman dan pengetahuan. Pengalaman, artinya kita sering mengalaminya, sehingga terbentuk kepercyaan, atau prediksi. Misalnya, rapat di kantor anu selalu telat dan molor, sehingga setiap ada undangan ke kantor itu kita percaya akan telat dan molor waktunya.

Kita tidak mengatakan bahwa kepercyaan itu salah atau tidak tepat, tetapi mengajak untuk selalu menguji apakah kepercayaan tersebut tidak menjadi kendala atau penghalang bagi kita. Sekali kepercayaan itu terbentuk dalam pikiran, ia akan menjadi bagian dari sistem nilai yang kita anut, dan otomatis mempengaruhi sikap kita atas banyak hal. Kalau seorang ibu meyakini anaknya malas, lalu fokus pada mencari bukti bahwa anaknya malas, dan berulangkali mengatakan anaknya malas. Maka, si anak juga jadi ikut percaya, atau pasrah pada antisipasi ibunya bahwa dia malas, dan dia menjadikannya sebagai alasan. "Abis saya memang anak yang malas."

Dengan keyakinan itu, kita akan cenderung mencari bukti yang menguatkannya. Oleh karena keyakinan itu bersifat personal, maka seseorang akan cenderung mempertahankannya, dan mencari terus bukti, konsistensi dari keyakinan itu. Ini bagus kalau keyakinan itu positif. Jika keyakinan itu negatif, maka orang tersebut akan melihat "dunia" dengan kacamata negatif terus.

Kepercayaan yang menghambat itu bisa datang dari lingkungan sekitar, dari orang tua, saudara, guru, teman, atasan, rekan sekerja. Ada yang tertanam karena berulang-ulang dikatakan orang. Ada juga komentar orang sekali saja, tapi dampaknya menghunjam dalam, karena diucapkan di depan umum misalnya. Ada juga "kegagalan" yang berulang kali dialami sehingga yang bersangkutan percaya kalu dirinya memang tidak bakat, kalau ini ditambah dengan komentar satu orang saja, maka mendalamlah kepercayaan negatif itu.
Kabar baiknya adalah bahwa kepercayaan negatif ini ternyata bisa diprogram ulang.

Apakah kita terkendala oleh kepercayaan negatif yang menghambat?

Keyakinan yang menguasai kita terkadang sudah sangat dalam, sehingga merubahnya sudah sulit. Namun yang penting kita bisa senantiasa menyadari adanya keyakinan tertentu dalam pikiran, sehingga bila perlu harus diubah. Mengenali adanya keyakinan negatif tersebut misalnya dari perkataan yang sering terucap:
- Saya tidak bisa ...
- Orang seharusnya ...
- Mereka tidak pernah mau ...
- Semua orang berfikir ...

Beberapa contoh klasik misalnya:
- Saya tidak bisa bergaul
- Tidak ada orang yang mau mendengarkan omongan saya
- Dia orangnya plin-plan
- Belajar matematik itu sulit.

Teknik menggoyahkan keyakinan negatip

Berikut ini kiat bagaimana menggoyang keyakinan yang negatif:
Manakala Anda mendengar diri sendiri mengucapkan, atau berfikir, seperti contoh negatif di atas, maka pendekatan di bawah ini dapat dicoba:

Langkah pertama. Goyahkan akar keyakinan tersebut dengan menantang dan mempertanakannya. Cobalah jawab beberapa pertanyaan berikut:
Apakah saya selalu meyakininya? (Aku tidak bisa bergaul)
Dari mana sebetulnya keyakinan negatif ini datangnya?
Apakah keyakinan ini masih benar?
Apakah buktinya yang mendukung keyakinan ini?
Siapakah orang yang kita kenal mempunyai keyakinan yang sebaliknya?
Apakah bukti yang mendukung bahwa keyakinan ini salah?
Dalam hal atau situasi apa, bahwa keyakinan kita itu tampak mengada-ada, aneh dan lucu?

Langkah kedua. Temukan alternatif, suatu keyakinan yang berbeda, yang lebih positif. Ini bisa dilakukan dengan melakukan brainstorming, identifikasi keyakinan-keyakinan lain yang mungkin. Mencoba-coba variasi dari berbagai keyakinan sampai didapat yang rasanya cocok dan positip. Buat keyakinan baru itu dalam pernyataan positip, misalnya, "Saya berbakat menulis dan saya senang latihan menulis."

Langkah ketiga. Integrasikan keyakinan alternatif itu. Bayangkan bagaimana perubahan situasi setelah menerapkan "keyakinan" itu. Bagaimana perasaan Anda dengan perubahan itu. Bayangkan Anda jadi bisa melakukan apa yang betul-betul ingin Anda lakukan. Bayangkan adanya percakapan tentang keyakinan baru. Apakah lebih memotivasi Anda? Apakah membuat perasaan lebih enak? Kalau memungkinkan bisa dicoba juga dengan "keyakinan" yang lain lagi, dengan proses yang sama. Dan, akhirnya pilih yang paling membuat Anda nyaman. Sebelum akhirnya memilih dan menerapkan satu kepercayaan, ada baiknya dipertimbangkan pengaruhnya terhadap orang lain di sekitar.

Beri selamat kepada diri sendiri yang telah mencoba mengendalikan nasib sendiri, dan telah menyingkirkan keyakinan negatif dan menggantinya dengan yang lebih positip.
Dengan menerapkan keyakinan berbeda yang bersifat positip, tantangannya adalah menjadikannya kebiasaan, sehingga keyakinan positip tersebut bekerja secara alamiah. [Risfan Munir]